Redesain Kemasan Produk Fammi Cake Kota Tangerang untukMeningkatkan Daya Tarik Konsumen
Pengabdian Masyarakat dilakukan oleh:
Dosen
Apsari Wiba Pamela, S.Ds., M.Ds., Alisa Dwi Putri, S.Ds., M.Ds., Rojesh Mangaraja Soalohon Nasution, S.Ikom., S.Ds., M.Ds.
Mahasiswa
Fathia Khairin Asfa, Fathia Aisyah Putri Larasati, Avicena Hauli Azka

Perkembangan industri kuliner berskala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia,
khususnya di wilayah urban seperti Kota Tangerang, menunjukkan tren pertumbuhan yang
sangat progresif. Kemudahan akses teknologi, pergeseran gaya hidup urban, serta tingginya
daya beli masyarakat terhadap produk makanan siap saji mendorong para pelaku UMKM untuk
terus berinovasi. Namun, pertumbuhan kuantitas ini tidak selalu berbanding lurus dengan
kesiapan pelaku usaha dalam membangun strategi komunikasi visual dan penguatan merek
(brand identity). Banyak UMKM kuliner yang memiliki kualitas cita rasa produk yang sangat
kompetitif, tetapi terhambat oleh minimnya diferensiasi visual, sehingga produk mereka
cenderung tenggelam di tengah jenuhnya persaingan pasar lokal. Salah satu pelaku usaha
potensial di Kota Tangerang yang menghadapi fenomena ini adalah Fammi Cake. Sebagai
sebuah industri rumahan, Fammi Cake bergerak di sektor pengolahan kue dan makanan ringan
dengan menyediakan berbagai variasi camilan. Di antara beragam produk yang ditawarkan,
donat menjadi salah satu menu unggulan yang memiliki basis pelanggan setia karena kualitas
tekstur dan rasanya yang dinilai potensial. Guna memperluas ekspansi pasar dan menjangkau
konsumen milenial serta generasi Z secara lebih masif, Fammi Cake telah menginisiasi
pemasaran digital melalui platform media sosial Instagram dengan akun resmi @fammicake.
Jejak digital ini menunjukkan adanya upaya dari pemilik usaha untuk membangun keterikatan
dengan audiens modern secara daring.
Sayangnya, promosi digital di Instagram @fammicake ini belum sejalan dengan kemasan fisik
produknya di dunia nyata. Masalah utamanya ada pada desain kemasan donat mereka yang
masih sangat seadanya. Kalau dilihat langsung, kemasannya belum punya konsep yang matang,
bentuk kotaknya pun masih memakai dus mika transparan yang banyak dijual di pasar, dan
hampir tidak ada informasi apa pun mengenai produk di sana. Identitas visualnya masih kosong,
walaupun ada logo penanda merek, belum ada pilihan warna yang konsisten, ataupun jenis
tipografi yang bisa membuat produk ini terlihat profesional sebagai bisnis kuliner modern. Padahal
di era sekarang, fungsi kemasan sudah jauh berubah. Kemasan bukan lagi sekadar wadah atau
pelindung supaya donatnya tidak rusak saat diantar, tapi sudah jadi “salesman tidak bersuara”
(silent salesman). Desain visual pada kemasan adalah hal pertama yang dilihat konsumen, dan
dari sanalah mereka menilai kualitas suatu merek. Kesenjangan ini otomatis bisa menurunkan
ekspektasi, kepercayaan, dan nilai jual produk itu sendiri. Kendala visual inilah yang membuat
kemasan donat Fammi Cake perlu segera dirombak. Lewat pendekatan desain, proyek redesain
kemasan ini hadir sebagai solusi nyata untuk menyelaraskan antara citra keren di Instagram
dengan bentuk fisik produknya. Caranya adalah dengan menata ulang layout kemasan, memilih
warna-warna yang bisa menggugah selera, serta menyusun info-info penting seperti varian rasa,
daya tahan donat, hingga akun media sosial mereka. Dengan begitu, kemasan baru ini nantinya
tidak cuma jadi pembungkus, tapi juga menjadi media efektif untuk memperkuat identitas merek
(brand identity) Fammi Cake.

